Minggu, 16 Desember 2012

Nasi Uduk


Edisi pindahan :)



Ada yang nggak suka nasi uduk?  kayaknya nggak ada deh ya....Di makan begitu aja udah enak, apalagi ditambah lauk-pauk lain...wwaahh.....delicioso deh.

Di kampung halaman saya di Deli Serdang, Sumatera Utara, nasi ini biasa di sebut nasi lemak.  Sangat mudah didapat di warung bahkan restoran pada pagi hari, karena biasanya jadi menu untuk sarapan.  Nasi lemak dilengkapi dengan mie/bihun goreng, sambal tempe goreng, balado telur atau ayam goreng, kacang goreng, irisan telur dan serundeng.

Untuk nasi uduk saya suka resepnya Ibu Fatmah Bahalwan.  Selain rasa dan pulennya  yang pas, nasi juga tidak hancur atau lembek, pokoknya pas :)




Bahan :

500 g beras
600 ml santan
1 sdm garam
daun salam dan sereh (saya pakai daun pandan dan sereh)
ketumbar halus dan bawang putih (saya nggakp pakai)


 Caranya :

1.  Kukus beras hingga panas.
2.  Masak santan, garam, daun pandan dan sereh hingga mendidih (sesekali di aduk agar santan tidak pecah) lalu angkat
3.  Masukkan beras panas ke dalam santan, aduk rata dan biarkan hingga beras teraron dan santan habis (tanpa api ya).
4.  Kukus hingga matang ( kurang lebih 20 menit).
5.  Nasi uduk siap disajikan.


Untuk lauknya ayam goreng, mie goreng, sambal balado telur, kacang tanah goreng dan lalapan timun dan daun selada *lalapannya lupa nggak ke foto :)).  Oh ya..di tambah kerupuk , makin lengkap deh.


Resep di atas, itu versi rajinnya saya. Ada juga versi malesnya.  Begini nih...

Masak santan dan bumbu (banyaknya santan seperti masak nasi biasa, atau lebihkan dari ukuran di atas) hingga mendidih.  Campurkan ke dalam beras lalu masak dengan menggunakan rice cooker.  Begitu masak (rice cooker bunyi) aduk untuk meratakan bumbu.  Walau hasilnya beda dengan cara di atas, yang di atas lebih pulen, tapi lumayan deh...cara ini nggak repot :))

2 komentar:

  1. setelah kenal magic com, bikin nasi uduknya sama denganku, malas pake dandang karena banyak cucian, wakaka...
    Yang penting bisa keturutan makan nasi uduk to....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo ada yang mudah, napa harus refot...gitukan ya mba Rina hehehe...

      Hapus